Berisi 24 lagu dengan durasi sekitar 90 menit, album paling ambisius In Inertia ini menghadirkan Reruntuh, Gardika Gigih, Niskala, dan Kazuma Okabayashi, serta dikerjakan sepenuhnya dari kamar tanpa melalui studio rekaman profesional.
Duo ambient post-rock asal Jakarta, In Inertia, merilis album kedua bertajuk “Unfamiliar Weather”. Berisi 24 lagu dengan total durasi sekitar satu jam tiga puluh menit, album ini menjadi proyek terbesar sekaligus paling ambisius yang pernah dikerjakan In Inertia sejak terbentuk pada 2020.
Melalui “Unfamiliar Weather”, In Inertia mengajak pendengar memasuki perjalanan panjang untuk mengeksplorasi berbagai perasaan yang terasa asing dan belum sepenuhnya dapat dipahami. Perubahan, kehilangan, penerimaan, proses memaafkan, serta upaya menemukan kenyamanan di tengah kondisi yang tidak familiar menjadi benang merah dari keseluruhan album.
Judul “Unfamiliar Weather” menggambarkan keadaan ketika seseorang harus menghadapi situasi emosional yang belum pernah ditemui sebelumnya. Seperti berada di tengah cuaca yang sulit diprediksi, manusia tidak selalu memiliki kendali atas apa yang datang. Namun, sesuatu yang awalnya terasa asing perlahan dapat menjadi ruang untuk beradaptasi, bertumbuh, dan menemukan bentuk kenyamanan yang baru.
Secara sonik, Annissa Utami dan F.A. Poetra Tiarda ingin membangun sebuah dunia yang luas, sinematik, futuristis, dan memiliki nuansa sci-fi. Lapisan gitar ambient dan shoegaze, dinamika post-rock, synthesizer, piano, tekstur elektronik, serta berbagai eksperimen suara dirangkai untuk menciptakan pengalaman mendengarkan yang imersif.
Alih-alih memperlakukan album ini sebagai kumpulan lagu yang berdiri sendiri, In Inertia merancang “Unfamiliar Weather” sebagai sebuah perjalanan utuh. Setiap lagu memiliki suasana dan identitasnya masing-masing, tetapi saling terhubung untuk membawa pendengar melintasi ruang, ingatan, serta emosi yang terus berubah.
Dalam proses pengembangan aspek ritmis album, In Inertia turut dibantu oleh Janu Rahadi dari inthebleakwinter dan Raoul Dikka dari Low Pink sebagai drum consultant. Keterlibatan keduanya membantu In Inertia mengembangkan pendekatan drum yang dapat mendukung perubahan dinamika dan atmosfer di sepanjang album.
Bagi In Inertia, proses ini bukan hanya tentang membuktikan bahwa sebuah album dapat diproduksi dari kamar. “Unfamiliar Weather” juga menjadi cara bagi Annissa dan Poetra untuk menguji kemampuan mereka sebagai musisi dan produser, sekaligus memperluas sejauh apa dunia musik In Inertia dapat dibangun secara mandiri.
Di luar aktivitasnya bersama In Inertia, Annissa Utami dan F.A. Poetra Tiarda juga aktif menjadi produser utama untuk sejumlah artis, termasuk eleventwelfth, Reruntuh, dan Hagai Batara. Pengalaman tersebut turut membentuk cara keduanya menyusun detail, tekstur, transisi, dan dinamika di dalam “Unfamiliar Weather”.
Dalam “Unfamiliar Weather”, In Inertia turut melibatkan empat musisi dengan latar belakang serta pendekatan musikal yang berbeda. Mereka adalah Reruntuh, solois dengan perpaduan folk dan post-rock; Gardika Gigih, pianis dan komposer eksperimental; Niskala, band post-rock asal Yogyakarta; serta Kazuma Okabayashi, gitaris ambient asal Tokyo, Jepang.
“Unfamiliar Weather” menjadi kelanjutan perjalanan In Inertia setelah sebelumnya merilis album pertama, “To Whom It May Concern”. Dengan 24 lagu dan durasi sekitar satu jam tiga puluh menit, “Unfamiliar Weather” tidak dirancang untuk dikonsumsi secara terburu-buru.
Di tengah kebiasaan mendengarkan musik yang semakin cepat dan berorientasi pada lagu tunggal, In Inertia justru mengajak pendengar untuk kembali menikmati album sebagai sebuah perjalanan yang utuh.
Pendengar diberi ruang untuk tersesat, berhenti, mengingat sesuatu, menghadapi ketidaknyamanan, lalu perlahan menemukan ketenangan di dalamnya. “Ada banyak hal dalam hidup yang awalnya terasa asing, tetapi perlahan menjadi bagian dari diri kita. Kami berharap album ini dapat menemani para pendengar ketika mereka sedang berada di dalam ‘cuaca’ yang belum mereka pahami,” ujar In Inertia.
Melalui “Unfamiliar Weather”, In Inertia ingin menunjukkan bahwa sebuah karya dengan visi besar tidak selalu harus lahir dari ruangan yang besar. Dari sebuah kamar, In Inertia membangun dunia sci-fi berdurasi 90 menit dan membuka pintunya bagi siapa pun yang bersedia memasuki sesuatu yang belum dikenalnya.
Kontak email: angularmomentumrecords@gmail.com
Nomor telepon 0857 7070 9130 (Guri)

Posting Komentar